Terik
mentari pagi menyaksikan perjalanan
seorang anak laki-laki dan ibunya. Tampak sebuah bakul yang
digendong dipunggungnya serta seorang anak yang mendorong sepeda menuju
pasar tradisional. Sebut saja nama anak itu
Iratselo. Dipertengah jalan, ibu mendadak menghentikan langkah. Selo pun
merasa bingung dengan sikap tersebut namun pandangan ibu tertuju pada sosok
anak kecil yang sedang membantu pekerjaan ayahnya di pinggir jalan. ” Ada apa
Bu? “,tanyanya. Ibu hanya terdiam dan melanjutkan perjalanan.
Selo pun masih memikirkan hal tersebut hingga tiba di tempat
tujuan. Suatu seketika di keheningan malam ketika listrik rumah padam, Selo
duduk di samping Ibu yang sedang menatap bintang.”Ibu, apa yang engkau harapkan
dari ku? tanya Selo. Ibu menjawab,”
Selo, Ibu berharap kelak kamu menjadi seorang pendidik yang mampu mendidik agar
tak terlihat lagi anak dibawah umur yang bekerja”. Selo pun memikirkan hal
tersebut hingga suatu hari Selo telah berada pada tingkat sekolah menengah atas
kelas XII. Putra dari pasangan petani ini bingung ingin melanjutkan pendidikan
karena terbentur oleh biaya. Sebelumnya Ayah dan Ibu pernah berkata bahwa “,tidak
memiliki biaya untuk pendidikannya di tingkat perguruan tinggi”. Duduk
merenungkan semua ini di pintu dapur dengan memandang senja yang ingin
tenggelam.
Ibu bertanya,” Selo, kenapa kamu sangat gelisah, apa yang sedang kamu pikirkan?
“Sebentar lagi UN dan
Aku akan lulus jadi kemana akan melanjutkan, Bu?”,sahut Selo. Tak sepatah kata pun terucap dari Bibir Ibu. Ibu
langsung beranjak pergi . Malam pun larut, Ayah memanggil Selo keruang tamu,
tidak tahu apa maksud ayah memanggilnya. Tanpa basa-basi, Ayah mengizinkan Selo
untuk mengikuti tes yang diselenggarakan salah satu universitas negeri di kota.
Tak kenal lelah, terik mentari dan hujan yang melanda tak mengurangi
semangatnya hingga semua persyaratan terlengkapi. Melihat perekonomian keluarga
yang bisa dikatakan kurang maka Selo berfikir untuk mengurus beasiswa.
Dukungan dari orang tua yang sungguh luar biasa
membuatnya bersemangat melalui semua ini. Lantunan do’a selalu diaturkan Ibu
ketika sholat yang mengharapkan anaknya sukses.
Suatu seketika, sebuah kabar terdengar dari kepala sekolah yang
mengatakan,” Selo kamu lulus sebagai mahasiswa undangan universitas
negeri”. Alhamdulillah”, kata syukur
terucap dari bibir Selo. Ayah dan Ibu tanpa bahagia dengan kabar tersebut. Namun
mereka tampak bingung dengan biaya masuk ke universitas.
Kedua orang tua Selo hanya berkata,” Nak jangan kamu fikirkan
mengenai biaya kuliah”. Selo pun selalu memohon kepada Sang Pencipta agar Selo
di beri rezeki yang melimpah. Sebidang tanah terjual demi membiayai dirinya
tetapi Selo berjanji akan belajar dengan giat agar mampu mewujudkan impian Ibu.
Di keberangkatannya ke kota, ada pesan yang selalu
disampaikan orang tua Selo,”belajarlah dengan giat dan banyak menciptakan
prestasi”. Pesan tersebut takkan
terlupakan dipikirnya. Ketika lelah melanda pesan tersebut akan membangkitkan
semangatnya. Waktu Selo terisi dengan aktifitas belajar dan organisasi
hingga tak ada waktu main baginya.
Setelah
beberapa bulan duduk dibangku perkuliahan, sebuah kabar bahagia disampaikan
kepada Selo. Nama Selo tertera pada mading pengumuman sebagai penerima beasiswa
bidikmisi. Syukur berbalut bahagia pun terlihat diraut wajah orang tuanya saat
di hubungi melalui telephone seluler. Beasiswa tersebut mampu memberikan
keringanan terhadap biaya pendidikannya
Setiap minggu pagi, Selo tampak sedih. Tak ada yang
membantu ibunya berjualan dipasar. Tak ada yang membantunya mendorong sepeda
dan memikul keranjang. “Ibu, aku pasti bisa membuat Ibu bangga denganku”, kata
itu yang keluar dalam hatinya. Meskipun air mata harus mengalir membasahi pipi.
Suatu tayangan “,JIKA AKU MENJADI ”, disalah
satu stasiun televisi itu mampu membuatnya lebih terispirasi. Ingin kembali ke kampung
ketika hari libur selalu terbayang di benaknya namun biaya yang membentur
membuatnya batal pulang. Sabar itulah yang terucap jika sedang sedih.
Ketika libur tiba, Selo bertekat kembali ke kampung tuk
melepaskan rindu dengan kedua orang tuanya. Tangan yang membawa selembar kertas
hasil ujian yang sungguh memuaskan. Tampak raut wajah ibu yang semakin tua dan
tampak kurus dengan kemilau kulit yang kehitaman. Tak tahan menahan haru, Selo
masuk ke kamar dan meneteskan air mata. Selo merasa apa yang dilakukannya tidak
akan mampu membalas pengorbanan orang tuanya. Senyum yang selalu Selo sajikan
kepada orang tuanya. Ibu dengan sabar mendengarkan cerita Selo episode demi
episode mengenai kegiatannya di kampus
Hingga larut malam dan Selo
tertidur. “Klotek...Klotek terdengar
sendok penggoreng membalik pisang goreng di dalam kuali. Tertera waktu
telah menunjukan pukul 01.00 wib.
Selo berjanji pada dirinya sendiri untuk lebih keras
dalam belajar. Dengan semangat yang luar biasa, Selo mampu pergi ke Ibukota Negara
RI menggunakan pesawat garuda atas sebuah karya berupa rangkaian kata yang
telah dibuat. Pengorbanan Ibu mampu memberikan semangat hingga beberapa prestasi
dikampus menyusul. Ibu aku takkan seperti ini tanpa dirimu. Terima kasih Ibu,
terima kasih Ayah. Aku akan kembali lagi dengan sejuta prestasi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar