Get Gifs at CodemySpace.com

Jumat, 11 Mei 2012

Sejuta Prestasi untuk Ibu



Terik mentari pagi menyaksikan  perjalanan seorang anak laki-laki dan ibunya. Tampak sebuah bakul  yang  digendong dipunggungnya serta seorang anak yang mendorong sepeda menuju pasar tradisional. Sebut saja nama anak itu  Iratselo. Dipertengah jalan, ibu mendadak menghentikan langkah. Selo pun merasa bingung dengan sikap tersebut namun pandangan ibu tertuju pada sosok anak kecil yang sedang membantu pekerjaan ayahnya di pinggir jalan. ” Ada apa Bu? “,tanyanya. Ibu hanya terdiam dan melanjutkan perjalanan.
            Selo pun masih memikirkan hal tersebut hingga tiba di tempat tujuan. Suatu seketika di keheningan malam ketika listrik rumah padam, Selo duduk di samping Ibu yang sedang menatap bintang.”Ibu, apa yang engkau harapkan dari  ku? tanya Selo. Ibu menjawab,” Selo, Ibu berharap kelak kamu menjadi seorang pendidik yang mampu mendidik agar tak terlihat lagi anak dibawah umur yang bekerja”. Selo pun memikirkan hal tersebut hingga suatu hari Selo telah berada pada tingkat sekolah menengah atas kelas XII. Putra dari pasangan petani ini bingung ingin melanjutkan pendidikan karena terbentur oleh biaya. Sebelumnya Ayah dan Ibu pernah berkata bahwa “,tidak memiliki biaya untuk pendidikannya di tingkat perguruan tinggi”. Duduk merenungkan semua ini di pintu dapur dengan memandang senja yang ingin tenggelam.
            Ibu bertanya,” Selo, kenapa kamu sangat gelisah,  apa yang sedang kamu pikirkan?
“Sebentar lagi UN dan Aku akan lulus jadi kemana akan melanjutkan, Bu?”,sahut Selo.  Tak sepatah kata pun terucap dari Bibir Ibu. Ibu langsung beranjak pergi . Malam pun larut, Ayah memanggil Selo keruang tamu, tidak tahu apa maksud ayah memanggilnya. Tanpa basa-basi, Ayah mengizinkan Selo untuk mengikuti tes yang diselenggarakan salah satu universitas negeri di kota. Tak kenal lelah, terik mentari dan hujan yang melanda tak mengurangi semangatnya hingga semua persyaratan terlengkapi. Melihat perekonomian keluarga yang bisa dikatakan kurang maka Selo berfikir untuk mengurus beasiswa.
            Dukungan dari orang tua yang sungguh luar biasa membuatnya bersemangat melalui semua ini. Lantunan do’a selalu diaturkan Ibu ketika sholat yang mengharapkan anaknya sukses.  Suatu seketika, sebuah kabar terdengar dari kepala sekolah yang mengatakan,” Selo kamu lulus sebagai mahasiswa undangan universitas negeri”.  Alhamdulillah”, kata syukur terucap dari bibir Selo. Ayah dan Ibu  tanpa bahagia dengan kabar tersebut. Namun mereka tampak bingung dengan biaya masuk ke universitas.
            Kedua orang tua Selo hanya berkata,” Nak jangan kamu fikirkan mengenai biaya kuliah”. Selo pun selalu memohon kepada Sang Pencipta agar Selo di beri rezeki yang melimpah. Sebidang tanah terjual demi membiayai dirinya tetapi Selo berjanji akan belajar dengan giat agar mampu mewujudkan impian Ibu.  
            Di keberangkatannya ke kota, ada pesan yang selalu disampaikan orang tua Selo,”belajarlah dengan giat dan banyak menciptakan prestasi”.  Pesan tersebut takkan terlupakan dipikirnya. Ketika lelah melanda pesan tersebut akan membangkitkan semangatnya. Waktu Selo terisi dengan aktifitas belajar dan  organisasi  hingga tak ada waktu main baginya.
Setelah beberapa bulan duduk dibangku perkuliahan, sebuah kabar bahagia disampaikan kepada Selo. Nama Selo tertera pada mading pengumuman sebagai penerima beasiswa bidikmisi. Syukur berbalut bahagia pun terlihat diraut wajah orang tuanya saat di hubungi melalui telephone seluler. Beasiswa tersebut mampu memberikan keringanan terhadap biaya pendidikannya
            Setiap minggu pagi, Selo tampak sedih. Tak ada yang membantu ibunya berjualan dipasar. Tak ada yang membantunya mendorong sepeda dan memikul keranjang. “Ibu, aku pasti bisa membuat Ibu bangga denganku”, kata itu yang keluar dalam hatinya. Meskipun air mata harus mengalir membasahi pipi. Suatu tayangan  “,JIKA AKU MENJADI ”, disalah satu stasiun televisi itu mampu membuatnya  lebih terispirasi. Ingin kembali ke kampung ketika hari libur selalu terbayang di benaknya namun biaya yang membentur membuatnya batal pulang. Sabar itulah yang terucap jika sedang sedih.
            Ketika libur tiba, Selo bertekat kembali ke kampung tuk melepaskan rindu dengan kedua orang tuanya. Tangan yang membawa selembar kertas hasil ujian yang sungguh memuaskan. Tampak raut wajah ibu yang semakin tua dan tampak kurus dengan kemilau kulit yang kehitaman. Tak tahan menahan haru, Selo masuk ke kamar dan meneteskan air mata. Selo merasa apa yang dilakukannya tidak akan mampu membalas pengorbanan orang tuanya. Senyum yang selalu Selo sajikan kepada orang tuanya. Ibu dengan sabar mendengarkan cerita Selo episode demi episode mengenai kegiatannya di kampus  Hingga larut malam dan  Selo tertidur. “Klotek...Klotek terdengar  sendok penggoreng membalik pisang goreng di dalam kuali. Tertera waktu telah menunjukan pukul 01.00 wib.
            Selo berjanji pada dirinya sendiri untuk lebih keras dalam belajar. Dengan semangat yang luar biasa, Selo mampu pergi ke Ibukota Negara RI menggunakan pesawat garuda atas sebuah karya berupa rangkaian kata yang telah dibuat. Pengorbanan Ibu mampu memberikan semangat hingga beberapa prestasi dikampus menyusul. Ibu aku takkan seperti ini tanpa dirimu. Terima kasih Ibu, terima kasih Ayah. Aku akan kembali lagi dengan sejuta prestasi.     




Tidak ada komentar:

Posting Komentar